Tugas Terstruktur 09


Analisis Desain Produk dengan Prinsip Design for Environment (DfE)

Studi Kasus: Botol Shampoo Plastik

Pendahuluan

Design for Environment (DfE) merupakan pendekatan dalam perancangan produk yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sepanjang siklus hidup produk. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan fungsi dan estetika produk, tetapi juga mempertimbangkan aspek material, proses produksi, penggunaan, serta pengelolaan produk setelah masa pakainya berakhir.

Produk yang dianalisis dalam tugas ini adalah botol shampoo plastik. Produk ini dipilih karena sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan hampir setiap orang menggunakannya secara rutin. Meskipun terlihat sederhana, botol shampoo menyumbang jumlah limbah plastik yang cukup besar setiap tahunnya. Oleh karena itu, produk ini sangat relevan untuk dianalisis menggunakan prinsip Design for Environment (DfE).


Deskripsi Produk

Botol shampoo plastik berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan cairan shampoo, melindungi isinya dari kebocoran dan kontaminasi, serta memudahkan pengguna saat menuangkan produk. Umumnya, botol shampoo terbuat dari plastik jenis HDPE atau PET untuk badan botol, plastik PP untuk tutup, serta label yang terbuat dari plastik atau stiker perekat.

Dari segi desain, botol shampoo biasanya memiliki bentuk ergonomis agar mudah digenggam, ukuran yang bervariasi antara 170 ml hingga 400 ml, serta warna yang mencolok untuk menarik perhatian konsumen. Beberapa botol juga dilengkapi dengan tutup flip atau pompa untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan.


Analisis Desain Awal

Secara umum, desain botol shampoo saat ini lebih berfokus pada aspek fungsional dan pemasaran. Dari sisi fungsi, desain ini sudah cukup baik karena mampu melindungi isi produk dan memudahkan pemakaian. Namun, dari sisi lingkungan, masih terdapat banyak aspek yang perlu diperbaiki.

Botol shampoo terdiri dari beberapa komponen dengan jenis material yang berbeda, yaitu badan botol, tutup, dan label. Kombinasi berbagai jenis plastik ini menyebabkan produk menjadi sulit untuk didaur ulang secara efektif. Selain itu, penggunaan warna gelap dan label permanen juga memperumit proses daur ulang.


Identifikasi Masalah Lingkungan Berdasarkan Prinsip DfE

1. Aspek Material

Sebagian besar botol shampoo masih menggunakan plastik murni yang berasal dari bahan baku fosil. Selain itu, penggunaan beberapa jenis plastik dalam satu produk membuat proses pemilahan dan daur ulang menjadi tidak efisien. Warna botol yang tidak transparan juga menurunkan kualitas hasil daur ulang.

2. Aspek Produksi

Proses produksi botol shampoo membutuhkan energi yang cukup besar, terutama pada tahap pencetakan plastik dan pewarnaan. Proses ini menghasilkan emisi karbon dan limbah industri yang berpotensi mencemari lingkungan.

3. Aspek Penggunaan

Botol shampoo umumnya bersifat sekali pakai. Setelah isinya habis, botol langsung dibuang dan diganti dengan botol baru. Hal ini menyebabkan konsumsi kemasan plastik yang sangat tinggi per orang setiap tahunnya.

4. Aspek Akhir Siklus Hidup

Sebagian besar botol shampoo berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan bocor ke lingkungan. Karena sulit dipisahkan dan tidak semuanya didaur ulang, botol plastik ini dapat bertahan di lingkungan selama ratusan tahun dan menimbulkan pencemaran jangka panjang.


Rekomendasi Perbaikan Desain Berdasarkan Prinsip DfE

1. Reduce (Mengurangi Penggunaan Material)

Desain botol dapat dibuat lebih tipis dan ringan tanpa mengurangi kekuatan fungsionalnya. Selain itu, penggunaan material pada tutup dan label juga dapat dikurangi. Dengan cara ini, konsumsi bahan baku plastik dan energi produksi dapat ditekan.

2. Redesign (Desain Ulang untuk Sistem Isi Ulang)

Botol shampoo sebaiknya dirancang agar lebih kuat dan dapat digunakan berulang kali. Konsumen cukup membeli kemasan isi ulang dalam bentuk pouch, sehingga tidak perlu terus-menerus membeli botol baru. Pendekatan ini dapat mengurangi jumlah limbah botol plastik secara signifikan.

3. Recycle (Desain Mudah Didaur Ulang)

Botol dan tutup sebaiknya dibuat dari satu jenis plastik yang sama agar mudah didaur ulang. Selain itu, penggunaan warna transparan dan label yang mudah dilepas akan sangat membantu proses daur ulang di industri pengolahan sampah.

4. Recover (Penggunaan Material Daur Ulang)

Produsen dapat mulai menggunakan plastik hasil daur ulang sebagai bahan baku utama dalam pembuatan botol shampoo. Dengan demikian, kebutuhan akan plastik murni dapat dikurangi.

5. Reuse (Penggunaan Kembali)

Botol shampoo dapat dirancang agar menarik dan cukup kuat untuk digunakan kembali sebagai wadah isi ulang, baik untuk shampoo maupun sabun cair lainnya.


Kesimpulan

Berdasarkan analisis menggunakan prinsip Design for Environment (DfE), dapat disimpulkan bahwa desain botol shampoo saat ini masih belum ramah lingkungan karena menggunakan banyak material plastik, bersifat sekali pakai, dan sulit didaur ulang. Namun, melalui penerapan prinsip reduce, reuse, recycle, recover, dan redesign, dampak lingkungan dari produk ini dapat dikurangi secara signifikan tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai wadah shampoo.

Pendekatan DfE menunjukkan bahwa perbaikan desain produk tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat menjadi nilai tambah bagi produsen dan konsumen dalam mendukung keberlanjutan.

Comments

Popular Posts